Pekerja Sosial di Surabaya sebagai Pelopor Gerakan Seribu Rupiah Seribu Harapan

Article Image

Bermula dari diskusi kecil mengisi waktu luang disela-sela jaga ronda malam, Dadang Setiawan seorang Pekerja Sosial yang tinggal di Kota Pahlawan memanfaatkan kesempatan bersama warga itu tidak hanya sekedar berkumpul dan berjaga di pos ronda.

“Diskusi waktu itu semakin mengkerucut pada keprihatinan kami pada permasalahan anak yang sekian hari semakin menghawatirkan, mulai dari kesenjangan social, pergaulan bebas dan terjebak narkoba”. Ungkap Dadang

Semakin hari diskusi itu makin menyimpulkan pada sebuah aksi social yang tumbuh dari masyarakat untuk membantu sebisa mungkin bagi anak yang membutuhkan. Gerakan social tersebut dinamakan Hope Surabaya.

“Konsepnya cukup sederhana, dimulai dari kami, kelompok kami mengumpulkan uang seribu rupiah yang biasa tercecer di setiap sudut rumah. Kadang di rak tv, di dapur, di jok motor. Uang seribu hanya uang kembalian beli kopin dan sabun dan biasa diabaikan. Pada akhir bulan uang yang terkimpul di masing-masing anggota kelompok dikumpulkan di koordinatorn yang ditunjuk. Nah gerakan kecil ini yang kita mulai”. Tandasnya

Dadang sapaan akrab sebagai pekerja social yang tergabung sebagai anggota IPSPI sejak 2010 sudah cukup dikenal dilingkungan aparat penegak hokum karena sangkin seringnya mendampingi anak yang berhadapan dengan hokum. Pengalamannya dalam mendampingi anak bermasalah ini sedikit demi sedikit ditransformasikan kepada lingkungannya untuk ikut ambil bagian bergerak menjadi pelopor pelindung anak. Kesadaran masyarakat harus terus dibangun untuk bersama-sama dalam melindungi generasi penerus dari keterlantaran, ekploitasi, kekerasan anak dan berbagai persoalan social anak.

“Awalnya bantuan diberikan kepada anak yang dirasa membutihkan berupa Uang tunai seratus ribu kepada 5 anak. Namun hasil evaluasi pemberian bantuan uang tunai tersebut dirasa cukup beresiko. Maka pada diskusi lanjutan disepakatilah bantuan dalam bentuk rekening tabungan atas nama anak, harapannya adalah kelak bisa digunakan untuk jaminan sosial dan pendidikan. Pada proses penentuan penerima manfaat semua anggota berhak mengajukan kandidat untuk kemudian dibahas di rapat guna menentukan penerima manfaat yang benar- banar membutuhkan(sesuai kriteria).” lanjut dadang.

Gerakan Seribu Rupiah Seribu Harapan yang digagas dan jalankan Perkumpulan Hope Surabaya  adalah  upaya yang terarah, terpadu dan berkelanjutan berbasis masyarakat, dalam bentuk pelayanan/advokasi sosial guna terpenuhinya kebutuhan dasar anak. Bentuk layanan Hope Suabaya diantaranya bantuan (stimulan) pemenuhan kebutuhan dasar dalam, bentuk tabungan bank atas nama anak, aksesabilitas pelayanan sosial dasar (rujukan), dan peningkatan kapasitas orangtua atau keluarga. Dengan sasaran penerima manfaat yakni Anak yatim, piatu, yatim piatu, anak terlantar, anak dengan kecacatan, anak rentan dan anak yang membutuhkan perlindungan khusus. Selain itu melalui bantuan ini kepada orang tua dituntuk untuk ikut bertanggung jawab penuh menjaga masa depan dengan memberikan pengasuhan optimal dan perlindungan kepada anak. Orang tua penerima manfaat diwajibkan untuk mengikuti pertemuan rutin untuk mendapatkan pembinaan dan pengetahuan tentang perlindungan anak, parenting, hokum, bahaya narkoba.

Tujuan dari Hope Surabaya yakni terwujudnya pemenuhan hak dasar anak. Perlindungan terhadap anak penerima manfaat sehingga tumbuh kembang, kelangsungan hidup dan partisipasi anak dapat terwujud. Anak terhindar dari permasalahan kesejahteraan sosial.

 “Dalam perkembangannya gerakan mengalami pergeseran, dimana beberapa donatur menanyakan secara khusus tentang penerima manfaat dengan kategori anak yatim/ piatu/yatim piatu, donatur tersebut berkeinginan setiap bulan akan mengirim donasinya langsung ke rekening anak. Sedikit mirip gerakan Orang Tua Asuh. Dan ini luar biasa. Alhamdulillah atas kesetiakawanan sosial dan kepedulian yg terbangun kini gerakan ini memiliki 15 anak penerima manfaat.” Pungkas Dadang.

Ketua IPSPI DPD Jawa Timur Juli Abidin mengapresiasi kegiatan yang telah dilakukan anggotanya, karena kegiatan ini merupakan bentuk praktik pekerjaan social sebagai upaya untuk membantu keberfungsian social individu maupun kelompok dan tentunya harus didukung bersama. Div_infokom

Berita Lainnya